Postingan

Menampilkan postingan dengan label Parenting

Celoteh Kecil 2

Gambar
Sekarang Awwab berusia 5 tahun.. Alhamdulillah, Awwab tumbuh cerdas, gagah dan sangat aktif. Terkait kata 'gagah', itu adalah kata pujian yang paling dia suka. Kalau kami memintanya memakai sepatu sementara dia ingin memakai sandal, kami tinggal mengatakan padanya, "Kalau pakai sepatu, lebih gagah deh". InsyaAllah dia segera menurut :D Dia juga senang sekali menyisir rambutnya dengan rapi dan selalu menyimpan sisir di tas sekolahnya, karena ada yang pernah mengatakan padanya bahwa ia sangat 'gagah' dengan rambut yang tersisir rapi. Hehehehe... Seiring dengan keaktifannya, Awwab sangat suka memanjat pohon. Suatu hari Awwab memanjat pohon bersama beberapa teman laki-lakinya. Lalu datang sepupuku dengan 2 anak perempuannya yang sedikit lebih muda dari Awwab. Sakinah dan Salwa. Sakinah memandangi Awwab yang sedang memanjat pohon dengan lincah, sementara Salwa menempel pada ibunya. Menyadari bahwa Sakinah memperhatikannya, Awwab pun memanggil, "Sa...

Parenting is Never About Parents! :)

Beberapa hari yang lalu, saya dan suami berencana mengajak anak-anak pergi ke taman bermain. Kamipun memutuskan untuk pergi ke arena bermain anak di sebuah mall yang sudah pernah kami kunjungi. Tempatnya luas, permainannya beragam, orangtua pun bisa bersantai di sudut-sudutnya yang nyaman. Ternyata Awwabku juga punya keputusan sendiri! :) Sehari sebelumnya, saya dan Awwab mampir ke sebuah hipermarket sepulang dari acara yang saya hadiri. Persis setelah tempat parkir, ada arena bermain yang menurut saya kurang asyik. Bising, permainannya pun tidak full anak-anak. Banyak permainan remaja bahkan dewasa. "Ma, Awwab mau ke C********!" Lho? Akhirnya saya dan suami berdiskusi di pinggir jalan. Kemana kami akan pergi? Kalau yang akan bermain adalah saya dan suami, tentu kami pilih arena bermain yang menurut kami nyaman. Tapi karena anak-anaklah yang akan bermain, akhirnya kami memutuskan pergi ke arena bermain kecil nan bising di sebelah tempat parkir :p Capek? Ya. Apalag...

Anak: Cangkir yang Kosong

Alhamdulillah, beberapa hari ini Allah swt mentakdirkan saya bertemu dan membersamai seorang anak. Anak yang unik, yang kisahnya membangkitkan kasihan sekaligus rasa sayang. Tapi sebagian perilakunya benar-benar menguji kesabaran. Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika usianya baru 5 tahun, ayahnya yang sudah meninggalkannya dan ibunya untuk mencari nafkah tiba-tiba kembali dengan kabar bahwa ia sudah menikah lagi. Sang ibu yang tidak bisa menerima kenyataan pun memutuskan meminta cerai, lalu menikah lagi. Lalu serentet ujian menerpanya tanpa henti. Ayah tirinya dipenjara karena memukuli ibunya. Lalu ibunyabercerai lagi, dan menikah untuk yang ketiga kali. Lalu, lalu, lalu,, saya tidak bisa membayangkan hidup seperti apa yang dijalaninya. Dia di tengah-tengah kami, seperti pemandangan aneh. Ketika ia mengajak temannya bercanda dengan pura-pura mencekik, tangan terkepal mengancam. Sedikit-sedikit mencari perhatian dengan menendang, melempar, memukul apa-apa yang ada di dekatnya, bah...

Membuktikan Cinta dengan Mendengarkan

Saya sedang sibuk pada sms seorang teman ketika saya sadari Awwab (putra pertama saya yang berusia 2 tahun) menatap saya dalam dengan wajah kesal dan setengah berteriak, "Mama!". Astaghfirullah.. Ternyata ia sudah memanggil saya berkali-kali, tepat di samping saya (maafkan Mama, nak!). Kita semua tentu tau, Allah menciptakan satu mulut untuk kita dan dua telinga. Untuk apa? Ya tepat sekali. Kita sudah seharusnya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Entah berapa banyak dosa yang telah diperbuat lisan kita. Dalam sebuah page di FB ( Statusku, Ladang Subur Pahalaku ), saya menemukan kata-kata hikmah dari Lukman Al-Hakim: Wahai anakku .... bila orang2 membanggakan perkataan2 mereka .... maka engkau berbanggalah dengan diammu .... aku tidak pernah menyesali diamku sekalipun .... namun untuk semua kata2 ku .... seringkali aku menyesalinya ( Luqman Hakim ) by Habsi Al Madani Subhanallah.. Sangat benar sekali! =) Kembali ke cerita 'pengabaian' s...

Menghitung Usia Kehamilan

Setiap mengintip blog saya ini, cukup sering juga saya mengintip statistik blog sampe search keyword yang mengarah ke blog ini. Salah satu yang cukup sering adalah keyword 'Menghitung Usia Kehamilan'. Sangat wajar, seperti ketika saya mengetahui bahwa saya positif hamil, yang pertama kali ingin saya ketahui adalah usia janin saya. Padahal c mungkin baru 3-4 minggu :) . Setelah googling dan googling, akhirnya ketemu juga situs yang menyediakan tool untuk menghitung usia kehamilan yang pernah saya posting di sini . Waktu itu, jelas saya belum pernah posting tentang itu di blog ini. Nah, karena cukup banyak yang 'nyasar' dengan tujuan menghitung usia kehamilan di blog ini, saya putuskan memuat juga tool yang saya ambil dari situs aslinya ibuhamil.com . Kalau gambarnya gagal tampil, silakan coba di sini . Atau jika ingin tiap hari mengontrol perkembangan sang calon buah hati tanpa harus online, silakan download di sini . Letakkan kursor di atas objek. Kemudian putar sesuai ...

Tahap Perkembangan Janin Minggu 21-30

Gambar
Subhanallah.. Ga terasa, usia "Eisya" dah memasuki minggu ke-23 :L .. Gimana ya, 'tampang'nya sekarang? ;) Minggu 21 Usus bayi telah cukup berkembang sehingga ia sudah mampu menyerap atau menelan gula dari cairan lalu dilanjutkan melalui sistem pencernaan manuju usus besar. Gerakan bayi semakin pelan karena beratnya sudah 340 gram dan panjangnya 20 cm. Minggu 22 Indera yang akan digunakan bayi untuk belajar berkembang setiap hari. Setiap minggu, wajahnya semakin mirip seperti saat dilahirkan. Perbandingan kepala dan tubuh semakin proporsional. Minggu 23 Meski lemak semakin bertumpuk di dalam tubuh bayi, kulitnya masih kendur sehingga tampak keriput. Ini karena produksi sel kulit lebih banyak dibandingkan lemak. Ia memiliki kebiasaaan "berolahraga", menggerakkan otot jari-jari tangan dan kaki, lengan dan kaki secara teratur. Beratnya hampir 450 gram. Minggu 24 Paru-paru mulai mengambil oksigen meski bayi masih menerima oksigen dari plasenta. Untuk persiapan h...

Mendidik Manusia atau Anjing ?

- Ratna Megawangi - SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah Cibubur yang relatif murah. Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak bagus. Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah salon yang tarifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus. Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya "berkonspirasi" unt...